Apakah
kamu termasuk orang yang ingin menjadi penulis? Atau setidaknya pernah terpikir
untuk menceritakan kisah hidupmu, menceritakan kembali buku yang telah kamu
baca atau film yang telah kamu tonton, membuat cerpen, novel, buku ilmiah, dan
lain sebagainya. Terbayang olehmu bahwa menulis ini akan semudah dan selancar
kamu berbicara. Tapi saat mulai menulis, pikiranmu malah mentok, menatap kosong
layar komputermu. Pernah alami seperti ini? Artinya kamu mengalami kesulitan
dalam menulis.
Eits,
tapi jangan dulu balik kanan dan berpikir menulis itu sulit. Kesulitan dalam
menulis seperti yang kamu alami, juga banyak dialami para penulis lainnya
termasuk saya. Bahkan, para penulis yang namanya telah berkibar pun awalnya pernah
mengalami kesulitan. Jadi, maju terus, ya.
Sekarang,
mari kenali kesulitan apa yang sering dialami saat menulis dan bagaimana cara
mengatasinya.
Pertama, kesulitan dalam merangkai
kata.
Kesulitan ini muncul karena
perbendaharaan kata atau kosa katamu yang kurang. Penyebab utamanya adalah
karena kamu kurang membaca. Ya, membaca. Seorang penulis juga harus menjadi
seorang yang rajin membaca. Hubungan membaca dan menulis itu ibarat sayur
dengan penyedap rasa, kaos kaki dengan sepatu, wajan dengan sutil. Saling
melengkapi. Membaca akan menambah wawasanmu sehingga kamu tidak akan kehabisan
ide dan kosa kata, dan menulis berarti mengeksekusi semua ide yang muncul di kepalamu.
Dijamin, kamu tidak akan kesulitan lagi merangkai kata-kata.
Kedua, kesulitan karena tidak tahu
teknik menulis. Menulis itu seni. Seperti halnya
bernyanyi, bermain alat musik, melukis, memahat dan sebagainya. Dibutuhkan
teknik untuk melakukannya. Kalau kamu asal menulis, tulisanmu tidak akan enak
dibaca. Misal, dalam hal penggunaan tanda baca, perbendaharaan kata sesuai EBI,
pemilihan sudut pandang kepenulisan, dan sebagainya. Jadi, kalau kamu ingin
tahu lebih banyak tentang teknik menulis, jangan malas untuk mengikuti kelas-kelas
kepenulisan. Saat ini kelas menulis bertebaran, baik offline maupun online
melalui media sosial. Baik yang berbayar maupun free. Dalam kelas tersebut kamu akan mempunyai seorang mentor yang
bisa kamu ajak diskusi tentang teknik menulis. Jadi, kamu tidak akan lagi
kesulitan dalam teknik menulis.
Ketiga, kurangnya motivasi saat menulis.
Biasanya penulis pemula begitu bersemangat diawal, tapi ketika mendapatkan
kesulitan ditengah jalan, semangatnya mulai berkurang. Bahkan tidak jarang
hasrat menulisnya hilang sama sekali. Akibatnya, tulisannya tidak pernah
selesai. Kalau kamu mengalami hal seperti ini, sebaiknya kamu bergabung dengan
komunitas penulis. Atau, bisa juga mengikuti channel seorang penulis, yang rajin memberikan tips menulis. Bergaul
dengan sesama penulis, bisa saling menyemangati. Biasanya semangat itu akan
muncul kembali saat mendengar teman kita sudah menyelesaikan naskahnya, atau
teman kita sudah dilamar oleh penerbit mayor, dan sebagainya.
Keempat, munculnya rasa takut dan
tidak percaya diri. Kamu sudah semangat, sudah di depan layar
komputer, tapi saat menulis, muncul rasa tidak percaya diri. Takut salah, takut
tulisanmu tidak bagus, takut tidak ada yang mau membaca, takut dikritik orang
lain, dan ketakutan lainnya. Biasanya ini banyak menyerang para penulis pemula.
Ayo, buang semua ketakutanmu. Jangan dengarkan suara-suara sumbang yang
membuatmu kehilangan rasa percaya diri. Bahkan jika tidak ada yang membaca
tulisanmu, tetaplah menulis dengan baik. Jika diawali dengan niat yang baik,
maka hasilnya pun akan baik. Menulis adalah proses. Untuk menghasilkan tulisan
yang bagus maka kamu harus terus menulis.
Kelima, kesulitan mengatur waktu.
Banyak penulis pemula lama sekali menyelesaikan tulisannya dengan alasan sibuk,
banyak kegiatan, waktunya tidak sesuai, banyak gangguan, dan lain sebagainya.
Kamu harus tahu, bahwa seorang penulis terkenal pun memiliki kesibukan, bahkan
mungkin lebih sibuk daripada kita. Tetapi mereka selalu berjuang meluangkan
waktu untuk menulis ditengah aktivitasnya
yang padat. Kuncinya adalah konsisten. Luangkan waktumu untuk menulis
dengan konsisten setiap hari. Mulai dari 15 - 30 menit. Lakukan dengan
konsisten. Jika perlu, buatlah papan metrik
pencapaian. Misal, jika target menulismu 2 halaman per hari, lakukan. Apabila
hari ini kamu hanya bisa menyelesaikan 1 halaman saja, maka esok kamu harus
menulis 3 halaman. Itu hanya contoh. Aturlah waktumu sebaik mungkin dengan
memangkas kegiatan harianmu yang kurang produktif. Sekali lagi, lakukan dengan
konsisten setiap harinya.
Nah,
sekarang sudah terbayang, kan,
bagaimana mengatasi kesulitan dalam menulis? Yuk, jadilah penulis yang
berproses, bukan penulis instan. Seorang penulis yang tulisannya lahir dari
kerja keras dan doa. Mari jadikan tulisan kita bermanfaat bagi orang banyak.
Salam
literasi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hai, silakan tinggalkan komentar disini, ya.